cinta yang sempurna, mungkin terlalu dini untuk aku melafalkannya. tetapi tidak ada salahnya jika kita terus berdoa. cinta yang sempurna, adalah bahagia bila berada didekatnya, bahagia bila melihatnya tersenyum, bahkan tenang bila berada dalam dekapnya.
cinta yang sempurna, adalah cinta ketika kita tak lagi menemukan amarah yang membara, adalah cinta hingga tak ada lagi rasa takut akan kehilangannya.
cinta yang sempurna, adalah bahagia yang tak ternilai. gugusan dari kebahagiaan kecil tak bermakna hingga lupa sudah berapa lama kita bersamanya, sejatinya bahagia itu tak dapat dihitung namun jika kita kembali mengingatnya kita akan merasakan berada didalamnya.
cinta yang sempurna, tak wajib saling memiliki namun mengerti akan apa makna dari sebuah janji yang sudah terlanjur diucapkan. cinta yang tak memiliki cemburu tanpa arah, karena sejatinya ia sudah tau kemana ia harus melangkah.
cinta yang sempurna, tidak pernah memiliki alasan untuk menyerah, tetapi selalu menemukan jawaban untuk bertahan. karna cinta yg sempurna senantiasa memaafkan.
080815.
Sabtu, 08 Agustus 2015
Rabu, 01 Juli 2015
mencintai dan dicintai?
Ketika kita mencintai seseorang, tentu saja kita akan merasa
senang berada disampingnya, tentu saja kita merasa bahagia bersama orang yang
kita cintai. Tapi apa yang terjadi jika sebuah cinta bertepuk sebelah tangan? Jika
sebuah cinta hanya berada pada salah satu pihak saja? Ketika kita tak bisa
menjadi sepasang kalimat “mencintai dan dicintai” yang terdengar begitu sempurna?
Bukanlah perkara mudah untuk mencintai, ketika kita memutuskan untuk mencintai
tentu saja kita akan siap dengan dua kemungkinan dari mencintai. Kemungkinan untuk
mencintai secara nyata, atau mencintai secara diam. Karna mencintai tak pernah
semudah kita menuliskan kalimat sederhana itu, karena mencintai tak pernah
semudah kita melafalkannya, karena mencintai tak semudah seperti yang kita
bayangkan.
Lantas, ketika kita sudah benar-benar mencintai, namun ia
terbendung oleh rasa ego untuk saling memiliki apakah itu layak disebut cinta? Ketika
kita hanya memaksakan hati untuk bahagia, apakah itu pantas disebut cinta? Ketika
kita hanya mencintai tetapi tidak dicintai apakah kita bisa menyempurnakan kata
“mencintai dan dicintai”? tidak.
Lantas, apakah ada cinta yang diawali dengan tergesa-gesa
akan berakhir bahagia? Tidak.
Lantas bagaimana dengan cinta dan sejumlah kepingan rasa
percaya yang mungkin tidak dapat disusun lagi pantas disebut cinta? Tidak.
Ketika pemilik cinta sudah mampu berkomitmen tentu saja dia
akan mengesampingkan egonya, tentu saja ia mampu bersabar menunggu untuk
mencintai dan bersabar menjalani setiap permasalahan yang ada, ketika pemilik
cinta mampu untuk tidak menghancurkan kepercayaan melainkan membuktikan nya
tentu saja ia dapat menyempurnakan sebuah kata sederhana “mencintai dan
dicintai.
Karna mencintai adalah sebuah pilihan,
Dan dicintai adalah sebuah keputusan.
Maka cintailah apa yang menurut mu layak untuk kamu cintai,
Berjuanglah untuk hal yang memang pantas kamu perjuangkan.
Minggu, 14 Juni 2015
((catatan hati))
Ketika sebuah janji hanya berujung janji,
Mungkinkah cinta masih bisa memaklumi untuk kembali?
Ketika sebuah ucapan hanya ucapan belaka,
Mungkinkah hati mampu membendung balada kecewa?
Akan ada saat dimana kita mampu melepas sebuah janji,
Bukan karna kita sudah tak saling memiliki.
Akan ada saatnya dimana kita mampu saling merelakan,
Bukan karna kita tak sudah saling membutuhkan.
Namun, karna hanya ingin menghargai hati.
Memberi ruang untuk mengenali diri,
Namun, karna hanya ingin membawa pergi hati,
Bukan untuk dibagi,hanya untuk diobati.
Ketika waktu tak mampu lagi mempersatukan,
Maka, bertahan dan menahan akan menjadi sebuah pilihan.
Bertahan dengan kepalsuan,
Atau menahan dengan keegoisan?
Cinta, tak bisa membunuh waktu.
Sekalipun kita mampu melawan waktu.
Cinta, tak bisa lari dari kenyataan.
Sekalipun kita mampu berlari ratusan kilometer dari kepahitan.
Karna cinta yg tulus tidak selalu mulus.
Mungkinkah cinta masih bisa memaklumi untuk kembali?
Ketika sebuah ucapan hanya ucapan belaka,
Mungkinkah hati mampu membendung balada kecewa?
Akan ada saat dimana kita mampu melepas sebuah janji,
Bukan karna kita sudah tak saling memiliki.
Akan ada saatnya dimana kita mampu saling merelakan,
Bukan karna kita tak sudah saling membutuhkan.
Namun, karna hanya ingin menghargai hati.
Memberi ruang untuk mengenali diri,
Namun, karna hanya ingin membawa pergi hati,
Bukan untuk dibagi,hanya untuk diobati.
Ketika waktu tak mampu lagi mempersatukan,
Maka, bertahan dan menahan akan menjadi sebuah pilihan.
Bertahan dengan kepalsuan,
Atau menahan dengan keegoisan?
Cinta, tak bisa membunuh waktu.
Sekalipun kita mampu melawan waktu.
Cinta, tak bisa lari dari kenyataan.
Sekalipun kita mampu berlari ratusan kilometer dari kepahitan.
Karna cinta yg tulus tidak selalu mulus.
Rabu, 10 Juni 2015
Hadiah Kedua .
Saya pernah berfikir, bahwa suatu hari nanti saya tidak bisa
merasakan kembali kebahagiaan setelah beberapa pengalaman mengajarkan saya
untuk rela membagi kebahagiaan saya dengan orang lain, lebih tepatnya
melepaskan apa yang pernah saya miliki.
Saya pernah berfikir, apakah setelah pengalaman itu saya
masih berani jatuh cinta dan menitipkan hati kecil saya ini kepada pria lain?
Apakah saya sudah siap untuk kembali kecewa, bahkan kenyang memakan janji-janji
manis yang terlalu sering mereka umbar kesana kesini?
Saya pernah berfikir, apakah saya juga sudah siap mencintai?
Memulai semuanya dari titik paling pertama,membangun kembali apa yang sudah
pernah saya bangun bersama mereka yang mungkin memang bukan jodoh saya? Karna
saya sendiri pun tidak mengetahui siapa sejatinya jodoh saya.
Saya pernah berfikir, apakah saya akan menjadi lebih kuat
dan tegar? Ketika saya harus kehilangan orang yg pernah menjadi bagian dari
hidup saya? Apakah saya akan berhenti menangisi hal yang sia sia yang berujung
pada sebuah penyesalan?
Ya, semua pertanyaan itu bermula dengan kalimat “Apakah saya
sudah siap?” lantas, jalan cerita saya menjadi lebih berwarna ketika semua
pikiran saya gugur.
Untuk saat ini, saya memiliki kebahagiaan saya, dicintai
dengan tulus oleh kedua orang tua saya dan seseorang.
Untuk saat ini, saya berani untuk jatuh cinta dan menitipkan
hati saya pada seorang pria yang selalu saya rindukan. Saya berani menitipkan
hati kecil saya tanpa ada rasa ragu untuk dibagi.
Untuk saat ini, pertama kalinya saya merasa percaya bahwa
saya tidak perlu lagi ragu menyimpan harapan, saya tidak perlu lagi memikirkan
bagaimana nanti suatu saat ketika saya kehilangan, walaupun saya tidak bisa
melawan takdir jika lah nantinya saya akan berhadapan dengan kehilangan untuk
sekian kalinya.
Saya berterimakasih, saat saat saya dipertemukan olehnya. Dipertemukan
oleh seseorang yg senyumnya begitu manis.
"Soul
mates aren't perfect people. They can come into your life and provide polar
emotional experiences from intense love to intense pain. Growth comes from
both. And a soul mate helps you grow. It isn't just "...and they lived
happily ever after" but "...and they lived!" ~ From my mentor ~
Lori Chidori Phillips”
Kamis, 07 Mei 2015
EnamBelas!
Selamat tanggal delapan untuk yang ke enam belas
kalinya. Mungkin kita akan mengingat sedikit kebelakang, betapa kita baru
beberapa kali merayakan hari kita bersama. Betapa kita harus berjuang melawan
yang namanya jarak walaupun keliatannya dekat, tapi perlu delapan jam atau
lebih untuk untuk sampai ditempat itu, Pontianak-Kuching masih satu pulau,
tetapi sudah berbeda zona waktu dan kewarganegaraan.
Ditahun pertama kita mencoba untuk saling menjaga
dan melengkapi satu sama lain, kita hanya bisa merayakan kebersamaan itu sekali
saja, untuk hitungan berikutnya, kita dituntut untuk saling bersabar satu sama
lain hingga pada akhirnya saling bertemu dan berbahagia (heheh). Mungkin dengan
merayakan hari jadi satu atau dua bulan pertama memang dianggap lebay bagi
beberapa kalangan, tetapi sebagai umat manusia, terutama bagi diri saya pribadi
hal itu wajar, hal itu merupakan cara bagaimana kita mensyukuri titipan yang
sudah diberikan pada kita, pada akhirnya masing-masing orang punya cara sendiri
untuk merayakan kebahagiaannya bukan?
Kembali pada topik pertama, untuk delapan kali ini
tidak terasa sudah memasuki angka enam belas, mungkin angka itu belum seberapa
masih bisa dibilang permulaan untuk sebuah hubungan. Enam belas kali ini jatuh
di hari jumat, delapan may dimana tahun lalu kita hanya bisa mengirim pesan,
saling berbagi foto tanpa merayakan nya. Tapi, dibulan ini kita bisa
ngerayaiinnya sama-sama dan itu akan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya!
Enam belas, tepat 486 hari kita berbagi, baik itu
dalam hal yang mengarah pada kebahagiaan ataupun hal yang mengarah pada yang
namanya kesedihan, karna hidup selalu berimbang antara bahagia dan sedih. Sudah
486 hari kita saling membangun kepercayaan, menghabiskan entah berapa jam untuk
bertemu, lalu sisanya kita habiskan untuk mengobrol dalam pesan singkat. Sudah
486 hari, kita bersama..bermula saat kita masih sama-sama malu-malu untuk
mengobrol hingga sampai pada titik dimana kita sudah tidak sungkan satu sama
lain bahkan..terbiasa saling memulai percakapan dengan kalimat yang mungkin
tidak romantis sama sekali.
Sudah cukup lama kita saling mengenal, saling
berbagi hingga pada akhirnya saling mengetahui satu sama lain, entah itu
kebiasaan positif atau negatif, hingga hal-hal kecil yang sering kita lakukan
menjadi sudah biasa didepan mata kita contohnya “makanan yg mulai ditepikan
kalau udah kenyang”. Dari hal-hal kecil kita dapat memahami,dari kode hingga
blak-blakan, dari panggilan yg awalnya romantis menjadi aneh-aneh, hingga
pembicaraan yang awalnya hanya permasalahan kuliah,tugas-tugas hingga menjadi
pembicaraan seperti…kebaya?, maksudnya pembicaraan yang sudah mulai mengarah ke
seriusan.
Dengan ini saya ucapkan :
1. Terimakasih
kepada kamu, yang bersedia menerima saya apa adanya, dengan segala
kekanak-kanakan saya, keegoisan saya, serta hal-hal lain yang tidak perlu
disebutkan.
2. Terimakasih
kepada kamu, yang mau berbagi suka dan duka, mendengarkan celothan-celotehan
anak kecil hingga larut,walaupun ketika saya sedang gusar orang pertama yang
mendengarkan dan mungkin saya omeli adalah kamu.
3. Terimakasih
kepada kamu yang selalu membawa saya ketempat makan (walaupun berat ngga
nambah), membawa sebatang coklat atau hal lain ketika saya sedang tidak mood
atau bahkan mengomeli saya ketika saya sedang berada dibawah mood yang tidak
mampu saya kontrol sendiri.
4. Terimakasih
atas kesediaan membawa saya jalan-jalan entah kemana saja, menghabiskan waktu
dijalan atau bahkan hanya keluar untuk mencari senja dan pelangi wkwkwk.
5.
Untuk
bagian kali ini, saya masih sangat tidak menyangka jika pada akhirnya kita akan
sampai di angka ini. Jika pada akhirnya kita akan melewati bulan-bulan tanpa
adanya selisih paham, jika pada akhirnya akan ada yg membuat saya seperti
menyebarkan lembaran-lembaran bunga setiap harinya.
6. Semoga
ini bukan catatan yang terakhir yang saya buat untuk kita, semoga dibagian
akhir blog ini saya akan lebih banyak bercerita lagi tentang kita.
7. Selamat
membaca kamu.
8. Selamat
tanggal 8 untuk yang ke-16!
Tertanda,
Liras Nindya
Malini.
Rabu, 04 Maret 2015
cerita pendek
aku bahagia! hanya itu yg bisa aku lontarkan untuk mensyukuri nikmat Tuhan kali ini. sepertinya ini bukan kali pertama aku jatuh cinta dan merajut kasih dengan pria, bukan pertama kalinya aku merasa bagaimana rasanya jari jari ini menjadi satu, tapi untuk kali ini pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta berulang kali, ya jatuh cinta setiap hari dengan pria yg sama.
dia bukan pria pertama yg memberiku coklat, bukan jg pria pertama yg mengajak ku pergi melihat bintang atau purnama, bukan pria pertama yg memberi ku bunga atau kado ketika aku berulang tahun, ya dia memang bukan pria pertama yg masuk kedalam kehidupanku.
aku seperti menemukan bintang yg paling terang, ketika aku memutuskanmu untuk menemani ku. aku seperti menunjuk pelangi, ketika aku membawamu kerumah untuk aku perkenalkan kepada orang tua ku dan berharap kau akan menggantikan seluruh tugas ayah ku, yaitu menjagaku kelak dikemudian hari ketika kita hidup bersama. tidak ada kata selain bahagia yang ku ucap ketika aku menerima titipan Tuhan untuk ku, saat ini.
karna bahagia memang sangat sederhana, menghabiskan hari bersama walau kadang kita tidak bisa mengelak dari pertengkaran-pertengkaran kecil namun tetap tak menyurutkan niat kita.
aku seperti ingin memutar waktu, andai saja..saat itu sebelum aku dipertemukan dengan pria yg belum tepat, aku ingin Tuhan mempertemukan ku denganmu. andai, aku bisa mengendalikan waktu, mungkin aku tak akan pernah merasakan yg namanya kehilangan.
namun Tuhan, selalu punya cerita lain, Ia mempertemukan ku dengan beberapa orang, kemudian memisahkan ku..dan pada akhirnya aku dipertemukan dengan yg tepat. karna waktu tidak bisa bergerak menuju masa lampau, namun tidak juga bisa dengan cepat berlari menuju masa depan. tetapi waktu, akan terus membantu untuk membuat sebuah ceita yg pada akhirnya akan bahagia. :)
Langganan:
Postingan (Atom)