Sabtu, 03 Oktober 2015

Karna Kekuatan Cinta itu Ada.

Saya tidak pernah membayangkan, bagaimana saya bisa mencintai lagi dengan sepenuh hati padahal dulu saya mati-matian memperjuangkan yang telah pergi.
Saya tidak pernah berfikir, hidup saya akan berubah jauh, bahkan jauh lebih baik setelah saya belajar memahami, dan berhenti menyumpah dan mempersalahkan siapa-siapa.
Saya tidak pernah mampu berfikir, bagaimana saya akhirnya memaafkan diri saya sendiri, mengobati hati saya, berhenti di garis finish, setelah saya berlari cukup jauh dari kenyataan yang menghantui saya setiap hari.
Bahkan saya, belum pernah membayangkan pada akhirnya saya mampu, saya mampu memahami, mengerti dan berbagi.

Pada akhirnya, kita akan berada pada titik dimana kita akan terheran-heran mengapa kita bisa melakukan ini semua dan seluruh tanda tanya berada tepat diatas kepala kita. 
Pada akhirnya, kita akan lupa bagaimana rasanya sakit hati, berjuang sepenuh hati, semua akan lunas dibayar dengan sebuah kebahagiaan tiada henti.
Pada akhirnya, akan ada yang mencintai tanpa menuntut untuk dimengerti.
Dan, pada akhirnya rasa saling mengerti hanya ada tanpa kita sadari ketika kita sudah benar-benar saling mencintai.

Tidak semua, yang kita inginkan akan berjalan semulus yang kita bayangkan.
Tidak semua, harapan yang kita lontarkan, akan berbalik menyapa kita.
Tidak semua perbedaan dapat saling menyatukan tanpa menyakiti berbagai pihak.
Dan, tidak semua yang belum kita jalani akan terasa begitu sulit. 


Kekuatan cinta itu ada.
Kekuatan cinta itu nyata.




Selasa, 29 September 2015

singkat saja.

mungkin cinta yang membawa kita berjalan beriringan.
mungkin juga cinta yang membiarkan kita berpencar.

mungkin cinta yang membawa kita dalam kebahagiaan.
mungkin juga cintalah yang membawa kita kepada kesedihan.

cinta, ia tak bisa kita ramalkan.
tak bisa kita pelajari,
tak bisa kita amati begitu saja,
cinta hanya bisa kita jalani,mengikuti kemana arah yang akan membawa kita pada sebuah kepastian.

Sabtu, 08 Agustus 2015

cinta yang sempurna.

cinta yang sempurna, mungkin terlalu dini untuk aku melafalkannya. tetapi tidak ada salahnya jika kita terus berdoa. cinta yang sempurna, adalah bahagia bila berada didekatnya, bahagia bila melihatnya tersenyum, bahkan tenang bila berada dalam dekapnya.

cinta yang sempurna, adalah cinta ketika kita tak lagi menemukan amarah yang membara, adalah cinta hingga tak ada lagi rasa takut akan kehilangannya.

cinta yang sempurna, adalah bahagia yang tak ternilai. gugusan dari kebahagiaan kecil tak bermakna hingga lupa sudah berapa lama kita bersamanya, sejatinya bahagia itu tak dapat dihitung namun jika kita kembali mengingatnya kita akan merasakan berada didalamnya.

cinta yang sempurna, tak wajib saling memiliki namun mengerti akan apa makna dari sebuah janji yang sudah terlanjur diucapkan. cinta yang tak memiliki cemburu tanpa arah, karena sejatinya ia sudah tau kemana ia harus melangkah.

cinta yang sempurna, tidak pernah memiliki alasan untuk menyerah, tetapi selalu menemukan jawaban untuk bertahan. karna cinta yg sempurna senantiasa memaafkan.


080815.

Rabu, 01 Juli 2015

mencintai dan dicintai?



Ketika kita mencintai seseorang, tentu saja kita akan merasa senang berada disampingnya, tentu saja kita merasa bahagia bersama orang yang kita cintai. Tapi apa yang terjadi jika sebuah cinta bertepuk sebelah tangan? Jika sebuah cinta hanya berada pada salah satu pihak saja? Ketika kita tak bisa menjadi sepasang kalimat “mencintai dan dicintai” yang terdengar begitu sempurna? Bukanlah perkara mudah untuk mencintai, ketika kita memutuskan untuk mencintai tentu saja kita akan siap dengan dua kemungkinan dari mencintai. Kemungkinan untuk mencintai secara nyata, atau mencintai secara diam. Karna mencintai tak pernah semudah kita menuliskan kalimat sederhana itu, karena mencintai tak pernah semudah kita melafalkannya, karena mencintai tak semudah seperti yang kita bayangkan. 

Lantas, ketika kita sudah benar-benar mencintai, namun ia terbendung oleh rasa ego untuk saling memiliki apakah itu layak disebut cinta? Ketika kita hanya memaksakan hati untuk bahagia, apakah itu pantas disebut cinta? Ketika kita hanya mencintai tetapi tidak dicintai apakah kita bisa menyempurnakan kata “mencintai dan dicintai”? tidak.
Lantas, apakah ada cinta yang diawali dengan tergesa-gesa akan berakhir bahagia? Tidak.
Lantas bagaimana dengan cinta dan sejumlah kepingan rasa percaya yang mungkin tidak dapat disusun lagi pantas disebut cinta? Tidak. 

Ketika pemilik cinta sudah mampu berkomitmen tentu saja dia akan mengesampingkan egonya, tentu saja ia mampu bersabar menunggu untuk mencintai dan bersabar menjalani setiap permasalahan yang ada, ketika pemilik cinta mampu untuk tidak menghancurkan kepercayaan melainkan membuktikan nya tentu saja ia dapat menyempurnakan sebuah kata sederhana “mencintai dan dicintai.

Karna mencintai adalah sebuah pilihan,
Dan dicintai adalah sebuah keputusan.
Maka cintailah apa yang menurut mu layak untuk kamu cintai,
Berjuanglah untuk hal yang memang pantas kamu perjuangkan.

Minggu, 14 Juni 2015

((catatan hati))

Ketika sebuah janji hanya berujung janji,
Mungkinkah cinta masih bisa memaklumi untuk kembali?
Ketika sebuah ucapan hanya ucapan belaka,
Mungkinkah hati mampu membendung balada kecewa?

Akan ada saat dimana kita mampu melepas sebuah janji,
Bukan karna kita sudah tak saling memiliki.
Akan ada saatnya dimana kita mampu saling merelakan,
Bukan karna kita tak sudah saling membutuhkan.

Namun, karna hanya ingin menghargai hati.
Memberi ruang untuk mengenali diri,
Namun, karna hanya ingin membawa pergi hati,
Bukan untuk dibagi,hanya untuk diobati.

Ketika waktu tak mampu lagi mempersatukan,
Maka, bertahan dan menahan akan menjadi sebuah pilihan.
Bertahan dengan kepalsuan,
Atau menahan dengan keegoisan?


Cinta, tak bisa membunuh waktu.
Sekalipun kita mampu melawan waktu.
Cinta, tak bisa lari dari kenyataan.
Sekalipun kita mampu berlari ratusan kilometer dari kepahitan.

Karna cinta yg tulus tidak selalu mulus.

Rabu, 10 Juni 2015

Hadiah Kedua .

Saya pernah berfikir, bahwa suatu hari nanti saya tidak bisa merasakan kembali kebahagiaan setelah beberapa pengalaman mengajarkan saya untuk rela membagi kebahagiaan saya dengan orang lain, lebih tepatnya melepaskan apa yang pernah saya miliki.

Saya pernah berfikir, apakah setelah pengalaman itu saya masih berani jatuh cinta dan menitipkan hati kecil saya ini kepada pria lain? Apakah saya sudah siap untuk kembali kecewa, bahkan kenyang memakan janji-janji manis yang terlalu sering mereka umbar kesana kesini?

Saya pernah berfikir, apakah saya juga sudah siap mencintai? Memulai semuanya dari titik paling pertama,membangun kembali apa yang sudah pernah saya bangun bersama mereka yang mungkin memang bukan jodoh saya? Karna saya sendiri pun tidak mengetahui siapa sejatinya jodoh saya.

Saya pernah berfikir, apakah saya akan menjadi lebih kuat dan tegar? Ketika saya harus kehilangan orang yg pernah menjadi bagian dari hidup saya? Apakah saya akan berhenti menangisi hal yang sia sia yang berujung pada sebuah penyesalan?

Ya, semua pertanyaan itu bermula dengan kalimat “Apakah saya sudah siap?” lantas, jalan cerita saya menjadi lebih berwarna ketika semua pikiran saya gugur.

Untuk saat ini, saya memiliki kebahagiaan saya, dicintai dengan tulus oleh kedua orang tua saya dan seseorang.
Untuk saat ini, saya berani untuk jatuh cinta dan menitipkan hati saya pada seorang pria yang selalu saya rindukan. Saya berani menitipkan hati kecil saya tanpa ada rasa ragu untuk dibagi.
Untuk saat ini, pertama kalinya saya merasa percaya bahwa saya tidak perlu lagi ragu menyimpan harapan, saya tidak perlu lagi memikirkan bagaimana nanti suatu saat ketika saya kehilangan, walaupun saya tidak bisa melawan takdir jika lah nantinya saya akan berhadapan dengan kehilangan untuk sekian kalinya.

Saya berterimakasih, saat saat saya dipertemukan olehnya. Dipertemukan oleh seseorang yg senyumnya begitu manis. 



"Soul mates aren't perfect people. They can come into your life and provide polar emotional experiences from intense love to intense pain. Growth comes from both. And a soul mate helps you grow. It isn't just "...and they lived happily ever after" but "...and they lived!" ~ From my mentor ~ Lori Chidori Phillips”



 

Anindyamalini Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template